Friday, October 21, 2016

Cerita Profesor, Mahasiswa dan toples dengan tema kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak

Tulisan bagus untuk direnungkan, Seorang profesor berdiri di depan mahasiswanya memulai materi kuliah dengan menaruh stoples bening dan besar diatas meja. Lalu mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Mahasiswa menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya; dituangkannya  ke dalam stoples, kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Mahasiswa menjawab, sudah penuh.


Lalu sang guru mengeluarkan pasir pantai; memasukkannya ke dalam stoples tadi. Pasir mengisi sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat stoples sudah penuh dan tidak ada yg bisa dimasukkan lagi.

Tapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air "masuk mengisi stoples yg sudah penuh bola, kelereng dan pasir itu.

Kemudian beliau bertanya. Apakah pesan yang dapat diambil dari permainan ini?

Lantas beliau menjelaskan sendiri jawabannya. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti stoples. Tiap kita berbeda ukuran stoplesnya.

Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orangtua, istri, anak-anak serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan.

kelereng adalah hal-hal yg penting seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, nonton film, model baju, model kendaraan dll.

Jika kita isi hidup dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng tidak bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sedangkan Tuhan dan keluarga terabaikan.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dari urusan besar, penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.

Pesan moralnya adalah: kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak, tahu menempatkan mana yang perioritas dan mana yg menjadi pelengkap.

Jika tidak, hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.

Lalu sang guru bertanya, adakah kalian yang mau bertanya. Semua mahasiswa terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya. Apa arti secangkir air yang dituang tadi..?

Sang profesor menjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, sediakan selalu air atau teh/kopi untuk tetangga, teman, sahabat sebagai silaturahmi
.
Semoga bermanfaat,🙏👍

Cerita Profesor, Mahasiswa dan toples dengan tema kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Gudang Siki

0 komentar:

Post a Comment